Indonesia Timur Segera Miliki Sekolah Berbasis Ilmu Telekomunikasi

Apnatel Jabar melalui Akatel dan Borsya Grup siap membuka sekolah berbasis ilmu komunikasi di Indonesia timur /Dok. Borsya Group

JURNAL GAYA - Beberapa tahun terakhir kehidupan manusia semakin bergantung pada teknologi. Apalagi di masa pandemi ini, dimana sebagian masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah untuk menghindari paparan virus Corona.

Bisa dibilang, teknologi semakin tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun faktanya, di Indonesia masih ada daerah yang belum tersentuh teknologi, khususnya di titik-titik terluar Indonesia.

Bukan itu saja, di beberapa wilayah Indonesia sekolah berbasis ilmu teknologi juga masih jarang ditemukan. Padahal dalam perkembangan teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni sangat diperlukan.

Ketua Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Jabar, Boris Syaifullah, mengatakan, industr telekomunikasi Indonesia saat ini mengalami sedikit masalah dari sisi SDM. Kebutuhannya sangat besar, pasokan di sejumlah wilayah masih terbatas.

"Ada ketidak seimbangan penyerapan telekomunikasi antar daerah di Indonesia, terutama wilayah timur Indonesia," katanya, di Bandung, Minggu, 13 September 2020.

Di sisi lain, menurut dia, perkembangan dan perubahan iindustri telekomunikasi sangat cepat. Tanpa adanya lembaga pendidikan formal sebagai wadah untu.k meningkatkan wawasan dan keterampilan SDM teknologi, maka Indonesia berpotensi untuk tertinggal dari dunia luar.

Oleh karena itu, untuk pengembangan SDM di bidang telekomunikasi, Apnatel Jabar melalui Akademi Telekomunikasi (Akatel) dan Borsya Grup siap mendirikan sekolah berbasis telekomunikasi di kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut Boris yang juga Chief Executive Officer (CEO) BorSya Grup, pendirian sekolah ini untuk menciptakan SDM yang mumpuni di bidang telekomunikasi. Dengan demikian, penyerapan dan perkembangan telekomunikasi di timur Indonesia semakin berimbang serta bisa dinikmati masyarakat timur indonesia.

Ia mengatakan, nantinya ilmu yang bisa dipelajari salah satunya mengenai produk dan proses produksi yang ada di perusahaan BorSya Cipta Communica, salah satu perusahaan berbasis telekomunikasi di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), dalam lima tahun terakhir, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh rumah tangga di Indonesia menunjukkan perkembangan yang pesat.

Persentase penduduk yang menggunakan telepon selular terus mengalami peningkatan, hingga pada 2018 mencapai 62,41 persen.

Pertumbuhan penggunaan telepon selular ini diikuti pula oleh pertumbuhan kepemilikan komputer dan kepemilikan akses internet dalam rumah tangga yang mencapai angka 20,05 persen untuk kepemilikan komputer dan 66,22 persen untuk kepemilikan akses internet dalam rumah tangga.

Ia menilai, SDM yang mumpuni di bidang telekomunikasi menjadi pondasi awal untuk perkembangan industri telekomunikasidi Indonesia ke depannya.

"Ini menjadi salah satu tujuan saya melihat perkembangan telekomunikasi di Indonesia menjadi merata," tutup Boris yang juga calon kandidat Ketua Apnatel pusat.

 

 

 

Sumber : JurnalGaya

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *