Pandemi Covid-19, Generasi Muda Harus Ubah Midset dari Job Seeker Menjadi Job Creator

TIDAK sedikit pelaku usaha yang mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan kinerja usaha selama pandemi.* /DOK. BORSYA

PIKIRAN RAKYAT – Pada masa pandemi Covid-19 ini generasi muda Indonesia harus mengubah pola pikir dari menjadi pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan kerja (job creator).

Apalagi, seperti diketahui, sejak pandemi bergulir, jumlah lapangan pekerjaan bagi pencari kerja terus menyusut.

Demikian diungkapkan Chief Executive Officer (CEO) dan Presiden Direktur (Presdir) PT BorSya Cipta Communica (BCC) yang juga Ketua Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Jawa Barat (Jabar), Boris Syaifullah, di Bandung, Selasa, 9 Juli 2020.

Menurut dia, generasi muda harus jeli melihat peluang di tengah pandemi.

"Di zaman sekarang, apalagi dengan adanya pandemi, pekerjaan semakin sulit didapat. Jangankan menambah pekerja, sekarang ini banyak perusahaan yang kesulitan finansial, sehingga harus melakukan efisiensi dengan merumahkan pekerja eksisting, bahkan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)." ujar Boris.

Namun, ia mengakui, membuka lapangan pekerjaan baru memang tidak mudah. Perusahaan yang sudah sejak lama berdiri pun, baik yang berskala mikro, kecil, menengah, maupun besar, banyak yang goyah akibat pandemi.

"Bukan hanya melakukan efisiensi dengan merumahkan pekerja atau melakukan PHK, banyak perusahaan yang terpaksa menutup usahanya karena tidak mampu lagi menjalankan roda bisnis," tuturnya.

Namun, menurut dia, kondisi itu bukan tanpa solusi. Apalagi, faktanya tidak sedikit pelaku usaha yang mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan kinerja usaha selama pandemi.

"Kuncinya adalah kejelian melihat peluang dan kolaborasi," tuturnya.

Kolaborasi, menurut dia, bisa dilakukan antarpelaku usaha lintas sektoral, bahkan lintas wilayah. Ia juga mengatakan, kendali masih dalam masa pandemi, pelaku usaha jangan takut untuk melakukan ekspansi ke luar daerah, termasuk Indonesia Timur.

"Pasar Indonesia Timur masih menjanjikan. Produk-produk Jawa Barat diterima dengan baik di sana," ujarnya.

Untuk menjajal pasar di Indonesia Timur, salah satunya Kabupaten Sumbawa, menurut dia, pelaku usaha asal Jawa Barat (Jabar) misalnya, bisa berkolaborasi dengan pelaku usaha setempat.

Kolaborasi tersebut akan bersifat win win solution karena setiap pelaku usaha yang terlibat bisa saling melengkapi kekurangan.

Ia sendiri, melalui BorSya, saat ini melakukan ekspansi ke Sumbawa dan menggandeng pelaku usaha lokal untuk berkolaborasi. Bukan itu saja, ia juga tak segan melakukan transfer pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha lokal.

Pada 7 Juni lalu, Boris selaku pengusaha asal Jabar, menggelat pertemuan sekaligus sharing ide bisnis dengan pengusaha lokal Sumbawa. Menurut Boris, Kabupaten Sumbawa dipilih karena memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar.

"Namun, mereka memiliki kelemahan semangat enterpreneur yang belum dapat," ujarnya.

Pada pertemuan tersebut ia menggandeng beberapa pelaku usaha lokal. Mereka diantaranya adalah pelaku usaha di bidang konstruksi, industrialisasi beras kemasan, jasa perjalanan wisata dan perhotelan, serta food & beverage.

"Semua berkolaborasi untuk memberikan arahan dan masukan untuk para pemuda di Sumbawa yang berminat untuk menjadi pengusaha," ujarnya.

Ia mengaku berharap, melalui kegiatan tersebut tercipta kolaborasi yang saling menguntungkan antara pengusaha Jabar, khususnya Bandung, dengan pengusaha Kabupaten Sumbawa. Khususnya, pelaku usaha mida di kedua daerah tersebut.

Sementara itu, Sudarmin, salah satu pengusaha lokal Sumbawa, mengatakan, para pengusaha lokal siap berkolaborasi dengan siapa saja, termasuk dengan BorSya Grup. Kesiapan tersebut, menurut dia, demi memajukan perekonomian di Sumbawa dan Indonesia pada umumnya.

 

 

Sumber : PikiranRakyat

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *